
DEPOKNET – Kemeriahan Hari Jadi Kota Depok ke-27 berlanjut dengan aksi jalan santai yang diinisiasi oleh Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Kota Depok Bertempat di kawasan wisata Situ Rawakalong, Cimanggis, pada Sabtu (25/4/2026), acara ini sukses menyedot perhatian warga dari berbagai wilayah.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok dari Fraksi Gerindra, Yeti Wulandari, turut hadir untuk memberikan dukungan langsung. Ia mengaku kagum melihat besarnya partisipasi masyarakat yang tidak hanya datang dari sekitar Cimanggis, tetapi juga dari wilayah Tapos hingga Sukmajaya.
”Alhamdulillah hari ini bisa dilaksanakan gerak jalan yang dilaksanakan oleh Forum Pembaruan Kebangsaan Kota Depok, lokasi di Situ Rawakalong. Dan Alhamdulillah antusiasme masyarakat luar biasa, bukan hanya dari masyarakat Cimanggis, tetapi juga masyarakat dari Tapos, Sukmajaya juga hadir. Insya Allah dengan adanya gerak jalan ini dalam rangka memperingati Dirgahayu Kota Depok yang ke-27, dengan semangat kebersamaan bahwa Kota Depok ini yang terdiri dari berbagai macam suku bisa bersatu padu untuk membangun Kota Depok menjadi kota yang maju,” ucap Yeti.
Di sela-sela kegembiraan perayaan, Yeti menyelipkan pesan krusial mengenai tantangan besar yang membayangi Kota Depok, yakni permasalahan sampah. Dengan volume produksi sampah yang kini menyentuh angka 1.000 ton per hari, ia mengajak warga untuk tidak lagi bersikap pasif.
Yeti menekankan bahwa kenyamanan kota adalah tanggung jawab kolektif yang harus dimulai dari kesadaran individu di tingkat rumah tangga.
“Ya, pesannya yang pertama adalah ayo sama-sama mulai dari diri kita sendiri, kita jaga lingkungan kita dengan cara apa? Membuang sampah pada tempatnya. Karena saat ini PR (Pekerjaan Rumah) Kota Depok adalah jumlah sampah yang luar biasa, mencapai sehari itu 1.000 ton yang akhirnya saat ini menjadi PR kita bersama. Oleh karena itu, supaya kota kita menjadi nyaman, mulai dari diri kita sendiri kita sudah mulai menjaga lingkungan dengan memilah sampah dari rumah,” tegasnya.
Sebagai legislator yang sejak awal masa jabatannya fokus pada kelestarian alam, Yeti kembali mengingatkan pentingnya menjaga situ-situ yang ada di Depok. Baginya, situ bukan sekadar bentang alam, melainkan infrastruktur vital untuk resapan air yang dampaknya dirasakan hingga ke Jakarta, sekaligus potensi besar bagi ekonomi lokal melalui konsep ekowisata
”Sejak awal saya concern, bahkan sejak periode saya yang pertama di Depok, itu karena apa? Karena kalau kita bicara masalah sumber daya alam, kita hanya punya situ, dan situ adalah salah satu soal daerah resapan yang juga sangat dibutuhkan oleh daerah tetangga kita yaitu DKI Jakarta. Karena apabila curah hujan tinggi, mereka juga bergantung dari Kota Depok. Oleh karena itu, situ kita ini bukan hanya sebagai daerah resapan air, tetapi yang paling penting bisa dijadikan ekowisata,” pungkas Yeti.






