depoknet.com — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Depok mulai mematangkan persiapan Musyawarah Kota (Muskot) 2026 dengan menegaskan komitmen terhadap proses yang transparan dan sesuai aturan organisasi. Langkah ini menjadi penanda awal dimulainya tahapan suksesi kepemimpinan di tengah dinamika internal yang sempat mencuat.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua KADIN Kota Depok, Miftah Sunandar, usai memimpin rapat pengurus yang dirangkaikan dengan kegiatan halalbihalal di Kantor KADIN Graha Depok Mas, Jalan Arief Rahman Hakim, Pancoran Mas, Depok, Rabu (22/4/2026).
Suasana kebersamaan dalam kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat soliditas dan menyamakan arah organisasi menjelang pemilihan ketua baru.
“Alhamdulillah, hari ini kami sudah menyepakati pembentukan panitia. Saya juga langsung menandatangani surat keputusan (SK) untuk steering committee (SC) dan organizing committee (OC),” ujar Miftah Sunandar
Dalam struktur kepanitiaan, posisi Ketua SC dipercayakan kepada Sonar Harahap, sementara Ketua OC dijabat Nurjaman. Keduanya diharapkan mampu mengawal seluruh tahapan Muskot secara profesional dan berintegritas.
Panitia yang telah terbentuk akan segera bekerja, termasuk membuka pendaftaran bakal calon ketua dalam waktu dekat.
Proses penjaringan kandidat diperkirakan dimulai dalam satu hingga dua minggu ke depan, sedangkan pelaksanaan Muskot dijadwalkan pada September 2026.
“Pendaftaran kemungkinan dibuka satu hingga dua minggu ke depan. Untuk pelaksanaan Muskot, sudah disepakati pada bulan September 2026,” jelasnya.
Miftah Sunandar menegaskan, seluruh kandidat memiliki peluang yang sama dalam kontestasi. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas serta konsistensi terhadap aturan organisasi sebagai fondasi utama dalam proses demokrasi di tubuh KADIN.
Meski demikian, ia mengakui adanya dinamika internal yang mulai terasa sejak Februari lalu, terutama terkait perubahan kepengurusan yang dinilai tidak berjalan sesuai mekanisme.
“Yang jadi persoalan itu ketika ada perubahan kepengurusan yang tidak sesuai aturan. Harusnya semua berjalan sesuai mekanisme organisasi,” tegasnya.
Selain itu, Miftah Sunandar juga menyoroti tingginya biaya pencalonan yang berpotensi menjadi kendala bagi pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi.
“Kalau bicara realitas di lapangan, biaya untuk ikut kontestasi ini tidak kecil. Sementara banyak pelaku usaha, khususnya yang kecil, masih menghadapi keterbatasan,” ungkapnya.
Ia menilai hal tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar KADIN tetap menjadi wadah yang inklusif bagi seluruh pelaku usaha.
Di tengah berbagai tantangan, Miftah Sunandar tetap optimistis Muskot 2026 dapat berjalan kondusif dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa organisasi ke arah lebih baik.
“Siapapun yang terpilih nanti, saya harap bisa menyatukan para pengusaha, bersinergi dengan pemerintah, dan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas proses pemilihan dengan meminimalisir praktik negatif, termasuk politik uang.
“Harapan kita tentu proses ini berjalan sehat dan profesional. Semua kembali ke panitia untuk mengatur mekanismenya,” pungkasnya.***











