DEPOKNET– Hukum rimba kembali mencoreng wajah Kota Depok. Polres Metro Depok mendadak tegang saat massa Aliansi Masyarakat Maluku (AMMAL) merangsek datang. Bukan tanpa alasan, mereka menuntut keadilan atas penganiayaan brutal di Tapos yang membuat satu nyawa melayang sia-sia yakni Wajir Ali Tuankotta dan satu lainnya bernama Dede Naigrata kini bertaruh nyawa dalam kondisi kritis.
Ketua AMMAL, H. Moren, tak mampu membendung amarahnya melihat nyawa manusia dihabisi seolah tak berharga. Ia mengecam keras aksi barbar tersebut dan mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum, bukan hutan belantara di mana setiap orang bisa menjadi algojo.
“Binatang saja kita diperintah untuk memperlakukannya secara baik, apalagi itu manusia. Dan dia meninggal, akhirnya kan anaknya, istrinya jadi janda dan beberapa anak ya, tiga ya? Tiga,” cecar H. Moren dengan nada pedas.
Ia pun menuding ada “tangan-tangan” sipil yang ikut bermain dalam aksi keji ini dan mendesak polisi tidak tebang pilih. “Oleh sebab itu, saya minta dengan tegas kepada Polres untuk segera menangkap pelaku lain sehingga diharapkan Kota Depok ini tidak ada lagi hal-hal seperti begitu,” tegasnya.
Berdasarkan informasi dari kuasa hukum, keterlibatan “orang dalam” di lingkungan setempat terendus kuat.
“Tadi sesuai informasi dari lawyer, pelaku diduga adalah RT. RT setempat. RT Sukamaju Tapos,” ungkap Moren.
Ia memberikan ultimatum 1×24 jam agar polisi segera meringkus oknum RT tersebut sebelum massa kehilangan kesabaran dan menempuh cara mereka sendiri.
Di sisi lain, Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, mencoba meredam situasi dengan janji profesionalisme. Meski satu tersangka dari oknum TNI AL sudah berpindah tangan ke pihak militer, publik masih menunggu keberanian polisi menyentuh pelaku sipil.
“Pelaku yang diduga merupakan anggota TNI AL saat ini masih dalam pemeriksaan di Pomal Bungur (POM Lantamal III) dan beberapa saksi sudah juga kami mintakan keterangan terkait hal ini,” ujar AKP Made Budi. Saat ini, Serda TNI AL berinisial M menjadi sorotan utama sebagai pelaku yang telah diamankan.
Tragedi ini terkuak saat sebuah mobil boks menurunkan dua tubuh penuh luka di Polsek Cimanggis pada Jumat pagi buta, pukul 04.30 WIB, sebelum akhirnya dibuang ke RS Brimob untuk perawatan darurat. Polisi mencoba mencari celah motif di balik kebiadaban ini melalui dugaan transaksi barang haram.
“Transaksi ilegal, tapi tentu hal ini terus kami dalami ya, berdasarkan bukti-bukti yang ada,” kata AKP Made sambil menyebut adanya bukti chat di ponsel korban. Ironisnya, penganiayaan maut ini diduga dilakukan hanya dengan sebilah selang.
Hingga kini, publik hanya bisa menonton saat polisi mengaku telah memeriksa lebih dari tiga saksi. Pertanyaannya tetap sama, sejauh mana hukum sanggup menyeret semua yang terlibat, termasuk oknum sipil yang diduga ikut “mencicipi” kekerasan tersebut, ataukah kasus ini akan menguap begitu saja.
(Am)








