depoknet.com – Guna menghidupkan kembali gairah olahraga catur di tingkat akar rumput, sebuah ajang bertajuk Street Chess Competition digelar meriah di Kota Depok. Selain menjadi wadah bagi para pecatur lokal, kompetisi ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT PDI Perjuangan ke-53.
Inisiatif ini datang dari Anggota DPRD Kota Depok Fraksi PDI Perjuangan, Fransiscus Samosir, yang berkomitmen memberikan panggung bagi para atlet, khususnya di wilayah Sukmajaya.
Ketua Panitia, W. Mattikena, mengungkapkan bahwa pemilihan konsep “Street Chess” didasari oleh realitas kebiasaan masyarakat setempat. Meski pelaksanaannya melibatkan juri resmi dari Percasi untuk menjaga standar profesional, atmosfer yang dibangun tetap mengusung kedekatan khas komunitas lokal.
“Street Chess Competition itu kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia itu sebenarnya kompetisi bermain catur di jalan, seperti itu. Kenapa? Karena banyak sekali komunitas-komunitas catur itu, pecatur-pecatur itu, sering sekali bermainnya bukan tanda kutip di jalan raya, bukan, tapi memang mereka punya pos-pos itu adanya di pinggir jalan, warung-warung kopi, seperti itu. Nah, itu lebih merakyat gitu, lebih jatuhnya merakyat,” ujar W. Mattikena.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Sukmajaya, Fransiscus Samosir menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni satu kali. Ia berencana menjadikan turnamen ini sebagai agenda rutin dengan jangkauan yang lebih luas, terutama menyasar institusi pendidikan.
“Kalau bisa memang ya setahun dua kali nanti mungkin ke depannya khusus junior kita undang sekolah-sekolah yang memang mempunyai atlet-atlet catur. Selama ini kan kita komunikasinya ke klub-klub doang, klub-klub paguyuban-paguyuban catur yang ada di Sukmajaya. Ke depan kita bikin kelas junior yang kita bisa undang ke sekolah-sekolah bikin kegiatan kita,” ungkap Fransiscus.
Ia juga menambahkan bahwa momentum ini terasa spesial karena bertepatan dengan hari jadi partainya.
“Event ini saya buat kebetulan di ulang tahun PDI Perjuangan sekalian, sekalian bikin event di HUT untuk komunitas catur,” tambahnya.
Melawan Ketergantungan Gawai melalui Olahraga Selain aspek prestasi, panitia memandang catur sebagai instrumen penting untuk menjaga kesehatan mental anak-anak. Di tengah gempuran tren media sosial dan gawai, catur diharapkan mampu mengajak generasi muda untuk lebih produktif di dunia nyata.
W. Mattikena menekankan bahwa edukasi mengenai aturan main yang benar adalah langkah awal untuk membangun mimpi para atlet muda.
“Itu aturannya memang harus benar, bagaimana bermain catur yang baik, dan bagaimana potensi-potensi anak-anak yang ikut itu nanti mereka juga mempunyai mimpi ke depan gitu,” jelasnya.
Penutupan acara tersebut diakhiri dengan pesan mengenai pentingnya dukungan infrastruktur kompetisi agar talenta asli Depok tidak hijrah ke daerah lain karena kurangnya wadah berkembang.
“Karena kalau seandainya mereka tidak diberikan sarana, nanti mereka pergi ke tempat lain, sia-sia gitu,” pungkas Mattikena. (Am Depoknet)








