DEPOKNET – Pemerintah Kota Depok berencana menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap hari Kamis. Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kota Depok, Ade Supriatna, menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar kebijakan ini tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Pria yang akrab disapa AdeS ini menyatakan bahwa setiap kebijakan harus melalui tahapan perencanaan yang matang, mulai dari agenda setting hingga implementasi. Meski mendukung upaya inovasi, ia mengingatkan adanya sektor-sektor layanan publik yang tidak bisa sepenuhnya dilakukan secara daring.
“Ya pada intinya, kita lihat hasil percobaan Kamis besok. Tentunya yang bisa mengevaluasi adalah Pak Walikota sendiri. Nanti kami juga terus memantau apakah percobaan WFH Kamis besok ini tidak mengganggu layanan publik atau sejauh mana semuanya bisa berjalan,” ujar Ade Supriatna saat memberikan keterangan (27/1/2026).
AdeS juga menyoroti kesiapan infrastruktur digital Pemkot Depok, khususnya aplikasi Depok Single Windows (DSW). Ia berharap aplikasi ini terus dikembangkan menjadi super apps yang terintegrasi dari tingkat kota hingga ke tingkat RW.
Mengenai pengalaman pengguna, ia menekankan pentingnya kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Artinya kalau emak-emak udah bisa makai, berarti udah bagus. Kalau emak-emak pusing? Intinya itu dah, gimana ngebangun tadi, user experience-nya bagus lah untuk Depok Single Windows ini,” tambahnya.
Selain aspek pelayanan, Pemkot Depok beralasan kebijakan WFH ini bertujuan untuk efisiensi anggaran. Namun, Ade memberikan catatan terkait sejauh mana pengurangan hari kantor dapat berdampak signifikan pada penghematan listrik atau operasional gedung jika tidak dilakukan secara serentak.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan adanya pengurangan transfer anggaran ke daerah sebesar Rp342 miliar untuk tahun 2026. Ade menyarankan agar efisiensi dilakukan pada sektor lain yang lebih berdampak.
“Sudah diukur belum convert ke pelayanan digital atau kerja berbasis digital ini dengan pengurangan dari anggaran ATK gitu kan. Itu. Nah, itu yang bisa lumayan mengefisienkan. Ada lagi mungkin makan minum, perjalanan dinas, dan lain-lain” jelasnya.
Di akhir keterangannya, Ade menegaskan bahwa seluruh perangkat daerah memang mengalami pengurangan anggaran, namun ia mewanti-wanti agar hal tersebut tidak mengorbankan kualitas pelayanan.
“Yang jelas memang jangan sampai pelayanan ke publik berkurang. Itu aja sih sebenarnya,” tutup Ade.
(Depok net)










