
DEPOKNET – Menindaklanjuti musibah banjir yang sempat melanda wilayah Cimanggis pada hari pertama Lebaran, jajaran TNI, Polri, pemerintah setempat, hingga komunitas warga menggelar aksi bersih-bersih sungai secara masif. Aksi ini menjadi bukti nyata kuatnya sinergitas antar elemen dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah bencana serupa terulang kembali.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Danramil dan Kapolsek Cimanggis ini melibatkan ratusan personel gabungan. Mayor Inf. Dasim, selaku Danramil Cimanggis, merinci besarnya kekuatan yang dikerahkan untuk normalisasi aliran sungai tersebut.
“Dari Koramil kurang lebih 20, Polsek 20, terus dari komunitas 20, Kelurahan, Kecamatan, dan warga setempat kurang lebih 150 orang,” ujarnya.
Dalam penyisiran di lapangan, tim gabungan menemukan berbagai material yang menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air. Selain sampah domestik, ditemukan pula material padat hingga pelanggaran tata ruang di bantaran sungai.
“Temuan di lapangan, ya, kita temuin sampah-sampah di daerah aliran sungai, sampah kain, kemudian sampah ban, kayu, dan ada juga ini bangunan yang menonjol ke daerah aliran sungai seperti itu tuh, lihat GSS-nya,” jelasnya menambahkan. Ia juga menyoroti adanya pendangkalan sungai yang memperparah kondisi.
Senada dengan hal tersebut, Kapolsek Cimanggis, Jupriono, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi sesaat, melainkan langkah awal dari upaya berkelanjutan. Pihaknya juga melibatkan dinas terkait seperti PUPR dan DLHK untuk proses pengerukan sedimen.
“Ya, kami tentu akan merencanakan kegiatan-kegiatan berikutnya. Harapannya juga masyarakat melanjutkan kegiatan ini, bukan hanya hari ini saja. Ini harus dilakukan berkelanjutan supaya sama-sama menjaga sampah-sampah jangan sampai mengendap di kali. Nah, ini harus dituntut kepedulian masyarakat sekitar,” tegas Jupriono.
Sementara itu, Siswadi selaku Ketua KOPI (Kobar Obor Peduli Indonesia) menyoroti betapa memprihatinkannya kondisi sedimentasi dan tumpukan sampah kain yang ditemukan di dasar sungai.
“Temuan di lapangan sediment nya sangat tebal sekali. Jadi ini air hanya di permukaan saja, tapi sampahnya begitu dalam, Mas. Sampai sepinggang itu ke bawah itu tanah. Nah, sampah itu sebenarnya lebih sampah kain yang banyak” ungkap Siswadi.
Ia pun menyerukan pentingnya edukasi kepada masyarakat luas agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah demi kebaikan bersama. Siswadi menegaskan bahwa kunci keberhasilan penanganan lingkungan ini terletak pada sinergi yang solid.
“Sinergi ini sangat penting. Bahkan Anda enggak harus datang pagi-pagi, datang siang pun enggak ada masalah. Tapi ini simbol dari kebersamaan, enggak ada masalah. Ah, artinya apa, bahwa kita ini ikut turut serta gitu lho, turut serta, rasa peduli kepada lingkungan yang hari ini kita sama-sama nikmati ini di Cimanggis,” pungkasnya.
Aksi karya bakti ini direncanakan akan dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali untuk memastikan aliran sungai di wilayah RW 16 Kelurahan Tugu dan sekitarnya tetap terjaga dari sumbatan sampah.
Ketua RW 16 Kelurahan Tugu, Junaedi Sitorus, menyampaikan rasa terima kasihnya atas inisiatif yang diambil oleh unsur pimpinan kecamatan. Ia mengaku warga merasa diperhatikan dengan adanya program kebersihan yang menyasar titik-titik rawan luapan air tersebut.
“Kami, terutama sebagai Ketua RW 16 Kelurahan Tugu, Bukit Cengkeh II, merasa terpedulikan sehubungan dengan seringnya banjir di komplek kami. Oleh karena itu, kami merasa diperhatikan dengan adanya program daripada Camat, Kapolsek, maupun Danramil untuk menyelenggarakan kebersihan ini,” ungkapnya.
Junaedi juga berharap agar sinergi ini terus berlanjut meski terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat kelurahan. Ia optimis aksi bersih-bersih ini dapat memberikan dampak signifikan bagi lingkungan mereka.
“Walaupun tahun yang lalu kami juga sama Lurah yang lama juga berbuat, sekarang ada Lurah yang baru, Insyaallah, mudah-mudahan apa yang dilakukan ini bisa menambah tidak banjir,” lanjutnya.
Meski mengapresiasi pembersihan di area pemukiman, Junaedi memberikan catatan penting terkait hilir aliran air. Menurutnya, kunci utama penanganan banjir di wilayahnya juga sangat bergantung pada kondisi situ yang menjadi muara aliran kali tersebut.
“Walaupun menurut kami sebenarnya yang lebih penting lagi adalah di Situ Pedongkelan, karena aliran daripada kali ini ke Situ Pedongkelan. Tapi walaupun demikian, kami ucapkan terima kasih atas peran sertanya Pak Camat, Pak Danramil, maupun Bapak Kapolsek,” pungkas Junaedi.
AM/Depoknet








